Friday, March 20, 2015

Ia, si Me yang mencoba berubah.

Kali ini, ia berjalan sendirian kembali......

Dengan earphone terpasang ditelinganya, buku itu tergenggam rapi di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya sibuk untuk memutar list lagu yang ingin didengarkan. Ia berjalan menyusuri jalan yang tak bertuju. Kali ini jalannya merunduk. Tak tau mengapa. Keadaanya lesuh, tak berdaya. Kalau belum makan, tidak mungkin. Karena penampilan nya kali ini begitu tidak seperti biasanya. Ia kelihatan begitu lelahnya, dimatanya tersimpan sejuta misteri yang ia tepiskan dengan senyuman yang selalu ia hadirkan kepada orang yang ia temui dijalan.
Setelah 1 km dia berjalan, dia ingat akan seseorang. Ya, dia ingat seseorang sekaligus ingat suatu tempat. Lalu ia segera membuka aplikasi di handphonenya untuk menghubungi seseorang tersebut, tak tau apa yang sedang ia lakukan. Mungkin ia meminta seseorang menemaninya berjalan atau entahlah...
Tak lama berselang, wajahnya kembali sumringah. Wajahnya menyiratkan suka yang begitu nyata. Senyumnya tersimpul dengan begitu rapi dan manis. Ternyata, dia telah menemukan tujuan kemana kakinya akan melangkah. Ya, kali ini ia berjalan dengan sangat cepat sekali. Tak sabar untuk menuju ketempat tersebut. Dia pun telah sampai di persimpangan jalan yang akan memisahkan dirinya dengan jalan penuh kabut itu. Dia segera mencari angkutan yang akan membawanya pergi dari mimpi buruk itu. Dia tanya kepada orang yang ada disekitarnya , angkutan apa yang akan membawanya sampai kepada tujuannya tersebut. Kali ini, dia tak sungkan lagi bertanya kepada orang-orang disekitar. Dia seperti menemukan dirinya dulu yang telah lama hilang. Yang hampir karam karena badai-badai kecil itu yang memaksanya melupakan hal-hal itu sedemikian rupanya.

Ya, akhirnya ia telah mengetahui angkutan apa yang akan ia naiki untuk sampai ke tempat terindah itu. Di perjalanan, ia terus berfikir tentang suatu hal yang terus hadir menghantui dirinya tersebut. Perasaan-perasaan berlebihan yang telah membawanya ke titik terdalam, pemikiran-pemikiran yang telah membawanya ke zona yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. 

Setelah 10 menit berselang, ia telah sampai pada "Surga" dunia yang ia impikan. Ya, ia merasa bebas. Melangkah tanpa beban, ketika pertama kali menjajakan kaki di tanah "surga" itu katanya. Ia terus berjalan, dan akhirnya ia benar-benar sampai di surganya. Kakinya dengan sangat mudah melangkah kemanapun ia mau. Tak perduli lelah, haus, lapar dan segala hal lainnya yang terpenting baginya adalah "Surga" telah didepan mata.

Lalu ia pun mulai menjelajahi satu persatu bilik yang ada didalam surga tersebut. Tak ada malu, tak ada rasa sungkan dan dia menjadi dirinya seutuhnya. Dia temui satu bilik yang memiliki sketsa ruangan yang begitu menantang mata nya. Ia lalu menghampirinya. Karena saking bahagianya ia sampai lupa, bahwa tas penopang dibahunya masih manis di kedua bahunya. Dan ia pun segera meletakkan tas itu. Lalu menyantap "surga" nya. Dia melirik setiap deret ribuan hasil pengolahan kayu tersebut yang telah rapi menjadi sesuatu hal yang begitu menggiurkannya. 

Ia tak sabar untuk menyantap segala hal yang ada dihadapannya tersebut. Ia raih satu persatu dan tak terasa lengannya terasa lelah, karena begitu banyak inginnya yang ditopang oleh bahunya tersebut. Ia kemudiam mencari tempat ternyaman untuk dirinya dan tumpukan-tumpukan itu. Dan ia pun memilih tempat ternyaman itu didekat jendela yang angin nya begitu sepoi terasa. Lalu ia pun meraih satu dari tumpukan itu untuk menemaninya di pagi yang terang benderang namun hatinya yang gelap gulita dipenuhi sejuta masalah.

Di sepanjang waktu itu, sama sekali tak terbesit masalah-masalah itu. Bahkan anehnya, ketika ia mencoba untuk memikirkan nya ada sesuatu hal yang membisikkannya untuk membunuh segalanya. Lalu ia melanjutkan kegiatannya tersebut. Sama sekali, ia tenang dengan genggamannya. Tak terganggu sedikitpun. Menakjubkan.

---

"Ia, yang menikmati kesendirian dengan mengupas duka dan suka bersama dirinya sendiri. Mencoba menjauh dari kehidupan belantara yang hiruk pikuknya telah membuat ia lelah.
Ia, yang masih mencoba mencari cara bagaimana temukan jati diri sebenarnya.
Ia, yang masih mencoba untuk menghargai dan mengerti.
Ia, yang teledor, sembrono, SANG EGOISTIS yang tak tau kapan menghilang dari peredaran bumi. Ia, yang masih berusaha melupakan masa lalu yang hingga kini masih menjadi awan gelap disetiap hari bahagianya.
Ia, yang mencoba untuk menerima keadaan yang sebenarnya.
Ia, yang masih membumi yang tak tau kapan bisa terbang menuju langit biru. Ia, yang masih salah, selalu salah, dan terus salah.
Ia, yang mencoba membunuh jiwa namun belum kesampaian.
Ia, yang terus berfikir berlebihan.
Ia, yang tak punya banyak teman.
Ia, yang tak punya banyak kelebihan dan lebih banyak kekurangannya.
Ia, yang tak bisa membahagiakan orang lain seperti orang lain membahagiakannya.
Dan, ia yang masih berkelana untuk mencari dan temukan sesuatu yang berarti"

-Tak tau sesuatu yang seperti apa. Tak tau temukan yang seperti apa-

"Ia, yang masih menikmati kesendiriannya dihari ini dan tak pernah tau bagaimana caranya menikmati hidup dan mensyukuri yang ia punya ".







Salam,


Ia, si Me yang mencoba berubah.






Share:

0 komentar:

Post a Comment