Thursday, March 16, 2017

Where your "oxygen?"

Everysecond we breathe like usually. But, not everyday we "breathe" like we want. Sometimes we "breathe" just because none we know for what.
Kalimat diatas baru saja aku tweet di akun twitterku. Entah atas dasar apa aku menuliskan ini, pokoknya pas lagi kepikiran tentang bernafas yauda tulis aja tentang begituan.
Dan anehnya, setelah beberapa menit kemudian, aku jadi kepikiran. 
Setiap detik kita bernafas seperti biasa. Tapi tidak setiap hari kita "bernafas" seperti yang kita ingin. Terkadang kita "bernafas" hanya karena kita tidak tau untuk apa.
Beginilah kira-kira yang muncul di pikiranku...

Setiap detik kita bernafas. Menghirup oksigen dan  mengeluarkan karbon dioksida. Begitulah pelajaran biologi mengajari kita bagaimana proses dari bernafas. Dan untuk kalimat diatas, bernafas itu lebih kepada "melakukan" sesuatu. "Melakukan sesuatu" yang penting, sama seperti pentingnya kita bernafas. Jika terlewat sedikit saja maka tamatlah riwayat. Dan ketika melewatkan sesuatu yang penting untuk dilakukan, maka hampa lah hari-hari. 

Dan aku ingin bahas kalimat itu kata per kata...
Setiap detik kita bernafas seperti biasa...
Setiap hari kita melakukan sesuatu seperti biasa yang kita lakukan. Melakukan hal yang itu-itu lagi dan terus berulang-ulang. Bangun pagi, buka mata, ngeregangin tangan dan kaki, mandi, berpakaian, pergi ke tempat yang itu dan itu lagi. Setiap hari. Atas dasar apa? Kewajiban? Keterpaksaan? Keharusan? Atau memang sesuatu yang kita inginkan? Untuk beberapa orang, menyebalkan sekali melakukan hal yang itu-itu lagi setiap hari. Dan bagi sebagian orang pula, hal itu adalah hal wajar dan tak masalah sama sekali. Ya karena memang "Setiap detik kita bernafas seperti biasa, kan?"
Tapi tidak setiap hari kita "bernafas" seperti yang kita ingin.
Ya, ini lebih kepada sebagian manusia yang ngerasa "tergelincir," "terjebak," "terpaksa," melakukan sesuatu. Ada manusia yang sebenarnya, dunianya bukan di dunia yang sedang digelutinya sekarang, namun karena sudah "terlanjur" maka mau tidak mau dan suka tidak suka, dia harus menyelesaikannya. Karena kita yang memulai maka kita juga yang harus mengakhiri, bukan? Dan memang, ada sebagian manusia-manusia yang "berani" memutuskan untuk menghentikan sesuatu yang telah dimulai atas dasar keyakinan, bahwa sesuatu yang akan dilakukannya seusai itu, adalah yang lebih baik baginya bahkan ya memang itulah dunia yang diinginkannya.

Untuk manusia yang "bernafas" tidak seperti inginnya, ini akan menjadi dilema yang besar. Mungkin mulanya, ketika pertama kali ia ngerasa "terjebak" dia bakal janji pada dirinya sendiri, bahwa "Ya, its oke, aku akan ngejalaninya" But, manusia tetaplah manusia. Sekuat apapun manusia menahan, maka pertahanan akan tumbang dan jiwa menuntut haknya. 
Lalu apa yang harus kita lakukan setelah itu? "Menyesalinya," "Memakinya," atau ingin "Mati saja?"
Begitu banyak pilihan-pilihan yang bisa kita pilih setelah kita ngerasa "terjebak."
Terkadang kita "bernafas" hanya karena kita tidak tau untuk apa.
Dan bagaimana pada akhirnya nasib para manusia yang "terjebak" di belantara dunia yang bukan dunianya? Menerima saja karena semua akan berakhir dengan segera, dan walaupun pada akhirnya dia tidak tau untuk apa dia melakukan itu semua. Karena untuk mundur sudah terlalu jauh, maka jalani saja. Toh, jika pun nantinya buntu, setidaknya ia sudah juara untuk menyelesaikan hal paling menyebalkan yang pernah ia pilih dalam hidupnya.
 Toh penyesalan takan membawa apa-apa. Jika kita juga tak berbuat apa-apa.
Sebagian manusia yang tau dia salah, pasti nyesal se-nyesal-nyesalnya. Dan yaudah, cuma nyesel aja. Kesal sendiri dalam hati. Mau marah tapi sama siapa. Gimana lagi. Dan yaudah juga, penyesalan itu juga enggak bakal ngaruh apa-apa, toh cuma nyesal aja, ngutukin diri sendiri tanpa do something.  

And yang terakhir nih yang muncul dalam pikiranku adalah...
Mencari udara baru adalah solusi terdekat untuk saat ini. 
Setidaknya, kita bisa pergi menghirup udara yang lebih sejuk, minimal sekedar buat keleluasaan hidung dan paru-paru untuk ngerasain kesegarannya. 
Setiap detik kita bernafas seperti biasa. Tapi tidak setiap hari kita "bernafas" seperti yang kita ingin. Terkadang kita "bernafas" hanya karena kita tidak tau untuk apa. 

Dan kalimat ini adalah pengingat, biar kita sebaiknya tau, dimana udara terbaik itu berada.


Jangan lupa bernafas ya, Gengs!
Cheers!!

Share:

2 comments: