Wednesday, January 10, 2018

Cerpen - Pilihan Nina, Bagian I




Pada suatu waktu yang tak biasa, semua cerita itu dimulai.....

***
Oktober, 2013

Semenjak lulus kuliah empat tahun yang lalu, aku memutuskan untuk hijrah dari kota ini, kota yang membesarkanku hingga sebesar ini. Ya, besar di sini maksudnya adalah badanku, badanku cukup besar, tidak terlalu menarik untuk dilirik oleh para lelaki yang begitu memuja si ramping dan si langsing lainnya. Alasanku untuk pindah adalah, aku ingin mengubah nasibku sendiri. Orangtuaku cukup mapan di kampung, sawahnya berhektar-hektar juga kebun jagungnya yang luas. Tentu aku tidak harus pergi dari kampung ini, karena disini pun aku sampai beranak nanti, keluargaku akan selalu baik-baik saja dari segi finansial, tiada kekurangan. Tetapi, tekadku sudah bulat, aku harus pergi dari kota ini, lusa aku akan berangkat ke kota yang ku impikan sejak lama....

***

Namanya Purna. Teman kostku di kota ini, Jakarta. Aku berkenalan dengan Purna sejak tiga hari yang lalu. Saat aku sampai di kost-an ini, ia yang menyambutku. Kebetulan kamar kami memang bersebelahan. Kost-an ini memiliki penghuni dari berbagai gender. Karena kebetulan ini juga yang murah dari yang lainnya. Dengan fasilitas kamar mandi di dalam dan dinding yang terbuat dari batu bata, aku sudah merasa cukup aman. Purna menyapaku ketika pertama kali aku sampai di sore itu.

"Orang baru, ya?" Tanyanya sambil tersenyum. Senyuman yang manis di awal yang manis.

"Eh...., Iya, nih" Jawabku setengah terkejut karena dia yang menyapaku duluan. Nggak biasanya orang Jakarta seperti ini, pikirku. Karena yang ku tahu, orang Jakarta hidup dengan tak acuh satu sama lain. 

"Asalnya dari mana, Mbak?" Tanya Purna seraya semakin mendekatkan diri dengan jendela kamar baruku.

"Dari Medan, Mas" Jawabku sekenanya dengan menggunakan sapaan Mas, karena ia memanggilku dengan sapaan Mbak.

"Oh dari Medan, tapi kok mukanya nggak sangar, ya? Hehehhe" Jawabnya sembari tertawa dan melihat wajahku lekat-lekat.

"Hahaha, Iya Mas, aku produk campuran" Aku menjawab dengan tertawa sembari mengangkat barangku masuk ke dalam kamar.

Tak lama setelah aku masuk ke dalam, Purna sudah nongkrong saja di depan kamarku dengan berdiri bak satpam.

"Eh maaf ya Mbak, aku berdiri di sini. Kalau masuk kan, sungkan. Jadi berdiri di sini saja, ya?" Purna menjelaskan kepadaku perihal keberadaannya di depan pintu kamarku.

"Iya, Nggak apa-apa, Mas. Mas, ini orang sebelah, ya? Asal dari mana, Mas?" Tanyaku untuk sekedar berbasa-basi.

"Iya, Mbak. Oh aku dari Semarang, Mbak. Sudah 3 tahun di sini, untuk bekerja. Sebelumnya aku juga udah pernah ke Jakarta, tapi buat Kuliah, setelahnya aku balik ke Yogya, terus Alhamdulillah keterima kerja di sini, jadinya balik lagi." Purna pun menjelaskan keberadaannya secara detail.

"Oh Semarang...Pernah ke Lawang Sewu, dong?" Jawabku sekenanya. Karena yang paling aku tau dari Semarang itu hanya Lawang Sewunya aja, jadi bisalah buat bahan obrolanku dengan Purna.

"Ya pernahlah, Mbak. Mbak belum pernah ke sana? Ntar ya aku ajakin ke sana." Purna menjawab pertanyaan yang tidak begitu penting dariku dengan serius, dan buat aku tersenyum malu.

"Wah belum mas, boleh juga itu." Aku menjawab pertanyaan Purna sambil berkhayal berada di dalam Lawang Sewu yang terkenal penuh misteri.

Selanjutnya kamipun mengobrol ringan dengan berbagai topik, mulai dari alasanku ke Jakarta, berapa lama di sini, dulunya kuliah di mana sampai mengenai keluarga. Sebuah perbincangan yang cukup serius dan mendalam untuk seukuran dua orang yang baru bertemu. Tetapi karena Purna begitu asyik dan manis, aku pun tidak mempedulikan peraturan tak tertulis orang yang baru saja berkenalan. 

Sebuah awal yang manis, pikirku. Bagaimana setelah hari ini dan selanjutnya, mudah-mudahan saja semakin manis, khayalku, sembari membereskan letak koper dan tasku karena tak terasa sudah malam, dan aku harus mengistirahatkan tubuhku yang begitu lelah ini.

***

Senin pertama setelah satu minggu berada di sini, aku berencana untuk berkeliling Jakarta. Guna menyusuri dan mengenali jalan-jalannya dan transportasi yang ada. Aku akan naik Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. Teman baikku, Atmi yang memberitahukan informasi mengenai apa-apa yang tidak ku mengerti di sini. Atmi telah tinggal di Jakarta selama 15 tahun, tahun kemarin dia pergi ke Surabaya untuk bekerja. Atmi mengatakan bahwa aku harus ke stasiun terdekat yang ada. Kebetulan aku tinggal di sekitar Stasiun Sudimara, maka untuk ke stasiun aku tinggal berjalan kaki sekitar 1 km. Sampai di stasiun aku membeli tiket ke Jakarta Kota. Sampai di sana aku belum tau ingin kemana dan ngapain, berbekal google map dan rekomendasi via google dan instagram, aku akan menyusuri Jakarta. Semoga saja berjodoh.

Setelah kembali dari berkelana ke kota, aku kembali ke kost-an. Pintu kamar Purna terbuka. Sepertinya dia baru pulang kerja, atas nama mengakrabkan diri sebagai warga baru di kost-an Pak Udin ini, ya, nama yang punya kost-an pak Udin, maka daripada ribet memberi nama buat kost-annya ia membuat namanya saja. 

"Haloooo" Aku sedikit berteriak sambil tersenyum di depan pintu kamar Purna.

Purna setengah terkejut, terlihat saat dada dan kepalanya sedikit terangkat ke atas dan tangannya diletakkan di dada.

"Yaaaa.... haduh Nina, kamu ini ngagetin aja. Aku ini emang masih muda, tapi kalau dikagetin, aku tetap aja bakalan kaget" Purna berbicara sambil menyuruhku masuk dengan bahasa tubuhnya. 

Di perkenalan awal, aku lupa memberi tau namaku siapa. Lucu sekali. Cerita tentang banyak hal, tapi nama saja aku lupa memberitahu. Dia baru menanyakan namaku ketika aku hendak keluar dari kamar untuk membuang sampah 2 hari yang lalu, 


Disambung besok, ya....




Share:

0 komentar:

Post a Comment