Monday, February 12, 2018

Suasana Pagi Hari (Nostalgia) di Pulau Jawa

Pagi ini aku sengaja untuk membuka laptop lebih cepat dari biasanya, karena aku tidak mau kejadian beberapa hari yang lalu terjadi lagi, yakni ketika hari sudah siang dan aku begitu malasnya membuka laptop. Maka, untuk tidak mengulangi kesalahan itu, pagi ini mataku sudah berapa di depan layar monitor ini.

Dengan headphone di telinga, aku fokus mengerjakan apa yang harus ku kerjakan. Aku merasa nyaman dan berkonsentrasi penuh ketika telingaku hanya mendengarkan musik yang ku putar tanpa suara lainnya. Itu sebabnya, jika orang berkata bahwa dia tidak bisa hidup tanpa pasangannya, maka mungkin aku bisa mengatakan, bahwa aku tidak bisa hidup tanpa headphone, he he he..

Sebenarnya niat untuk menulis pagi ini tidak ada, tetapi dikarenakan soundcloudku tak sengaja memutar lagu dari Banda Neira yang Langit dan Laut, maka akhirnya aku membuka dashbor blog ini dan mulai memilih tulis entri dan tertulislah ini....

Sudah berkali-kali bahkan ku tuliskan di postingan sebelum ini, bahwa how loving i am to Banda Neira so much. Salah satu dari sekian banyak lagu yang ku sukai dari mereka, Langit dan Laut memenuhi urutannya. Seperti telah ku ceritakan juga pada postingan sebelumnya mengenai bagaimana mulanya aku menyukai Banda Neira, aku mulai mengetahui mereka ketika aku sedang melakukan penelitian di Pulau Jawa, sana. Dan untuk itu, ketika pagi ini lagu tersebut terdengar kembali di telinga maka aku mengingat masa di pagi hari begini aku dan teman-teman sibuk untuk berangkat ke tempat penelitian...

Ya, tepat setahun yang lalu, kejadian itu terjadi. 

Sebulan pertama berada di sana, transportasi yang kami gunakan agar sampai ke tujuan adalah sepeda. Bermodalkan sepeda bekas yang kami beli di Bapak penjual sepeda bekas yang sudah tersohor namanya di kalangan mahasiswa tingkat akhir yang sedang melakukan penelitian. 

Jam masuk ke tempat penelitian, disesuaikan dengan jam kantor. Pukul 07.30 WIB kalau tidak salah dalam mengingat. Karena kami begitu ramai, maka kami harus bangun cepat agar tidak mengantre kamar mandi. Aku selalu jadi yang pertama untuk mandi pagi, karena aku ingin menikmati masa-masa mandi pagi tanpa diganggu oleh dobrakan pintu atau ketukan pintu agar aku segera mempercepat mandiku, no. Aku tidak mau itu. 

Sehabis adzan subuh, aku biasanya bangun. Kemudian mandi dan melakukan kewajiban lainnya. Setelah aku selesai, aku pun mulai membangunkan teman-temanku yang terlampau lelap dan nyenyak karena memang cuaca di sana saat pagi hari selalu saja sejuk dan dingin yang mengakibatkan siapa saja bisa lupa bahwa hari sudah pagi.

Ketika teman-temanku telah bangun maka mereka pun melakukan hal-hal yang seperti aku lakukan juga, mandi dan lainnya. Gubrak sana dan sini. Pinjam sana pinjam sini. 

Setelah semua selesai, kami pun mulai mengeluarkan kendaraan kami, ya kendaraan kami yang bernama sepeda. Di samping kontrakan yang kami tinggalin, ada sebuah garasi, dan disanalah kami menyimpan sepeda-sepeda kami. Kami berjumlah 9 orang, dan bayangkan saja bagaimana repotnya mengeluarkan sepeda yang begitu banyak ditambah dengan adanya mobil dan sepeda motor di dalam garasi kecil tersebut.

Semua sepeda telah keluar dari garasi, kontrakanpun kami kunci. Yang mengunci adalah mereka yang terakhir keluar dari rumah. Setelah itu kami pun sigap untuk bersiap-siap mengayuh sepeda.

Kebetulan aku menggunakan rok dan aku harus mengulung rokku terlebih dahulu, agar tidak masuk ke jari-jari sepeda. Karena sebelumnya, dua rok ku telah robek dikarenakan masuk ke jari-jarinya.

Kami mulai jalan.

Kami menegur siapapun yang kami temui di sepanjang gang kontrakan. Teteh warung depan kontrakan yang paling sering kami tegur, karena teteh setiap pagi memang sudah siap sedia di warung untuk menanti pembelinya.

Kebetulan, kontrakan kami dekat dengan pintu gerbang belakang Puspiptek. Kami hanya harus keluar dari gang kontrakan kemudian belok ke kanan, lurus dikit maka ketemulah pintu gerbangnya. Satpam-satpam di sana selalu seperti merasa entah "aneh" atau kagum melihat kami. Terkadang mereka juga mau memberi sapa.

Sepanjang perjalanan mengayuh sepeda, kami disuguhkan oleh keindahan langit yang membentang indah dan pemandangan gedung-gedung yang terbilang sudah cukup tua. Kami pun mengayuh sepeda dengan berbagai jenis dan gaya. Ada yang santai sambil mendengarkan musik melalui headphone, mengayuh sepeda sambil makan permen karet, mengayuh sepeda dengan kencang agar duluan sampai dan lainnya. Saat itu sepedaku kebetulan memiliki keranjang di depannya, maka memudahkanku untuk meletakkan tas di sana. Biasanya sih aku jadi jadi tim yang di tengah-tengah. Nggak duluan sampai dan nggak yang terakhir sampai. 

Ketika kami akan tiba di tujuan, kami akan mempercepat kayuhan agar duluan sampai. Jadi seperti lomba. 

Dan satu persatu sampai di parkiran. Parkiran sepeda ada di belakang gedung, sebenarnya tidak ada parkiran khusus, karena memang pegawai di sana banyak menggunakan sepeda motor dan mobil, maka karena ada lahan kosong di belakang, satpam pun mengambil insiatif menempatkan sepeda kami di sana. 

Muka-muka peluh dengan keringat ada disana....

Jantung yang berdegup kencang, kaki yang lelah dan keringat yang membasahi menjadi teman selama satu bulan pertama di setiap paginya. Jangan ada yang ajak bicara dan mengeluarkan kalimat atau kata yang memancing emosi, maka akan kena semprot. Begitulah kami mengibaratkannya. Fisik sedang lelah maka emosi pun akan semakin tinggi.

Butuh waktu sekitar 10 menit untuk kami menetralkan fisik yang lelah, ditambah lagi kami harus menaiki tangga untuk sampai ke lantai dua dari gedung, tempat kami bernaung. 

Dan setelah 10 atau 15 menit berlalu, dengan adegan kipas-kipas wajah dan badan, dikarenakan pendingin ruangan yang terlampau lelet, maka kami pun sudah mulai memiliki keseimbangan emosi kembali dan siap untuk mengerjakan apa yang harus kami kerjakan hari itu......


ini dia sepeda-sepedanya


Dan lagu Banda Neira yang Langit dan Laut inilah yang menjadi perantara tembang bagiku, untuk melalui jarak dari kontrakan ke P2F.


Hmm, rindu sekali. Can i go to it again faster? I really hope.
Share:

3 comments: